Kamis, September 04, 2008
Palin: Perang Iraq Tugas Dari Tuhan
Calon wakil presiden Amerika dari Partai Repubik, Sarah Palin dalam sebuah ceramah di depan mahasiswa Amerika mengatakan, perang Iraq adalah "tugas yang dari Tuhan"
Calon Wakil Presiden Amerika dari Partai Republik, Sarah Palin, mengatakan bahwa perang di Iraq itu tugas dari Tuhan. pasangan John McCain itu berbicara kepada para siswa seminari di bekas gerejanya pada Juni silam. Ceramahnya ini terekam oleh video dan baru-baru ini beredar secara luas.
Gubernur Alaska itu juga meminta para siswa seminari berdoa agar rencana membangun pipa gas di negara bagian yang ia pimpin bisa terlaksana. Ia mengatakan bahwa pipa gas itu, "Keinginan Tuhan."
Video rekaman pidato ini semula dipasang pada situs Assemblies of God atau Gereja Sidang-Sidang Jemaat Allah di Wasilla, Alaska, sebelum kemudian beredar ke mana-mana. Video ini sendiri, pada Rabu (3/9), tidak ada lagi dipasang di website itu dengan alasan lalu lintas pengunduh terlalu besar untuk ditangani.
Menurut video itu, Palin meminta mereka berdoa bagi tentara Amerika yang berada di Iraq. Ia juga menyinggung anaknya, Track, yang diperkirakan akan dikirim ke Iraq.
"Pemimpin nasional kita mengirim mereka ke sana karena tugas dari Tuhan," katanya. "Itu yang kita mesti pastikan, bahwa ada rencana dan rencana itu adalah rencana Tuhan."
Palin juga mengatakan ia bekerja di kantor gubernur untuk menerapkan keinginan Tuhan, termasuk menciptakan lapangan kerja dengan membangun pipa gas dari wilayah Alaska ke provinsi lain Amerika Serikat.
"Keinginan Tuhan untuk menyatukan rakyat dan perusahaan--agar jalur gas itu terbangun--harus terlaksana," katanya.
Pidato ini membuat berang Rob Boston, juru bicara Persatuan Amerika untuk Pemisahan Gereja dan Negara. "Saya sudah merindukan saat-saat di mana para pastur memberi khotbah dan politisi memberi pidato politik," katanya. "Tugas presiden adalah menyatukan rakyat-rakyat yang berbeda untuk mencapai satu tujuan, bukan bertindak seperti pastor Negara," dikutip Associated Press.
Jemaat Assemblies of God atau Gereja Sidang-Sidang Jemaat Allah adalah salah satu Gereja Pentakosta terbesar di dunia. Pada 2004, Gereja mengklaim memiliki sekitar 15 juta orang anggota di seluruh dunia, dengan 12.100 gereja di Amerika Serikat dan 236.022 gereja dan pos penginjilan di 191 negara di seluruh dunia.
Palin adalah jemaat Gereja Penginjil sejak remaja sampai 2002. Meski tidak lagi aktif sejak 2002, ia masih rajin mengikuti sejumlah pertemuan. Pencalonan Palin sebagai wakil presiden juga disambut hangat kelompok Kristen konservatif.Sumber : hidayatullah
Rabu, September 03, 2008
Surat Untuk Cintaku
Surat Untuk Cintaku
Oleh Muhammad Baiquni
Sebenarnya surat ini ingin kukirimkan kepadamu wahai engkau yang mampu melumpuhkan hatiku. Surat ini ingin kuselipkan dalam satu kehidupanmu, namun aku hanya lelaki yang tak memiliki keberanian dalam mengungkapkan semua percikan-percikan rasa yang terjadi dalam hatiku. Aku hanya dia yang engkau anggap tidak lebih, aku hanya merasa seperti itu.
Assalamu’alaikum wahai engkau yang melumpuhkan hatiku
Tak terasa dua tahun aku memendam rasa itu, rasa yang ingin segera kuselesaikan tanpa harus mengorbankan perasaan aku atau dirimu. Seperti yang engkau tahu, aku selalu berusaha menjauh darimu, aku selalu berusaha tidak acuh padamu. Saat di depanmu, aku ingin tetap berlaku dengan normal walau perlu usaha untuk mencapainya.
Doa Ramadhan Hari ke 4
Rasulullah Last Hours
Ada sebuah kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah lewat kehidupan Rasul-Nya...Pagi itu, meski langit mulai menguning, burung-burung gurung masih enggan mengepakkan sayap.
Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah,
“Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasihNya maka taati dan bertakwalah kepadaNya. Kuwariskan dua hal pada kalian, AlQur’an dan sunnah. Barangsiapa mencintai sunnahku, berarti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku akan bersama-sama memasuki surga bersamaku.”
Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca. Sedangkan dada Umar terlihat naik turun menahan nafas dan tangisnya. Ustman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya telah tiba.
“Rasulullah akan meninggalkan kita semua”, desah hati para sahabat di kala itu.
Manusia tercinta itu hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda semakin kuat tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar.
Ketika itu, seluruh sahabat yang hadir pasti akan menahan detik-detik yang diteteskan sang waktu, bila mungkin.
Matahari kian tingggi, tapi pintu kediaman Rasulullah masih tertutup. Di dalamnya beliau sedang terbaring lemah dengan kening yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seseorang berseru mengucapkan salam.
“Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Namun Fatimah tidak mengizinkannya masuk,
“Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata putri Rasulullah itu sambil membalikkan badan dan menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani sang ayah yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya kepada Fatimah,
“Siapakah itu wahai anakku?”
“Tak tahulah aku, Ayah. Sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut.
Rasulullah menatap putrinya dengan pandangan yang menggetarkan, seolah beliau ingin menyimpan satu-satu bayangan wajahnya dalam ingatannya.
“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara. Dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut,” kata Rasulullah.
Fatimah pun menahan ledakan tangisnya.
Malaikat maut datang menghampiri, tetapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut menyertai.
Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia untuk menjemput ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.
“Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” tanya Rasulullah dengan suara yang amat lemah.
“Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril.
Rasulullah tampak tidak lega, matanya masih penuh kecemasan.
“Tidakkah Engkau senang mendengar kabar ini?” tanya Jibril.
“Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”
“Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan surga bagi siapa saja kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya’”, kata Jibril.
Detik-detik hidup sang manusia tercinta hampir habis, saatnya Izrail melakukan tugas.
Perlahan ruh Rasulullah ditarik, seluruh tubuh beliau tampak bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.
“Jibril, betapa sakitnya sakaratul maut ini.”
Lirih Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka.
“Jijikkah kau melihatku hingga kau palingkan wajahmu, Jibril?” tanya Rasulullah pada malaikat pengantar wahyu itu.
“Siapakah yang tega melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik karena sakit yang tak tertahankan.
“Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan kepada umatku.”
Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan tangannya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu. Ali segera mendekatkan telinganya.
“Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah di antaramu.”
Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat pun berpelukan menguatkan diri. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
“Ummatii, ummatii, ummatii,”__umatku, umatku, umatku.
Dan pupuslah kembang hidup manusia mulia itu...
Kini, mampukah kita mencintai Rasulullah
seperti beliau mencintai kita?
Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi
Diambil dari tulisan Anam, MS
dengan perubahan.
Just4 remind us…
How Rasulullah love ya all.
valantinuvar@yahoo.com
Selasa, September 02, 2008
Capres-capres Asongan

Tabloid SUARA ISLAM EDISI 50, Tanggal 15 Agustus - 4 September 2008 M/13 Sya’ban - 4 Ramadhan 1429 H
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuhu
Perhelatan pemilihan presiden Indonesia masih cukup lama. Paling tidak satu tahun ke depan. Tapi bagi mereka yang menginginkan kursi RI 1, waktu tersebut terasa cukup pendek. Karenanya mereka sudah mulai jual tampang di sejumlah media massa baik cetak maupun elektronik. Mereka ingin populer. Tentu bukan dengan karya nyata, tapi dengan publikasi wajah berulang-ulang.
Demokrasi telah memunculkan wajah, bukan kapabilitas calon pemimpin umat. Padahal umat justru membutuhkan pemimpin yang memiliki kapasitas dan rela tunduk pada aturan ilahi guna mengatasi persoalan negeri ini yang belum kunjung usai. Alih-alih perbaikan, mereka yang terpilih akhirnya hanya menjadi simbol kekuasaan dan tidak bisa berbuat banyak kepada rakyat. Yang berkuasa adalah orang-orang yang sebelumnya memodali mereka. Yang sangat membahayakan adalah, jika pemodal politik ini orang asing, bagaimana negeri ini jadinya nanti? Kita akan terjajah tanpa terasa. Musuh tak perlu lagi datang ke mari karena mereka tinggal menyuruh anteknya yang telah berutang budi.
Memang sungguh menyedihkan. Sejak kita merdeka 63 tahun yang lalu, rasanya kita belum memiliki kedaulatan sebagai sebuah negeri berpenduduk Muslim terbesar di dunia. Para penguasa yang ada tak bisa melepaskan diri dari pengaruh luar. Tak ada kemandirian dan keberanian. Negeri ini menjadi subordinasi kekuatan asing.
Demokrasi yang dibangga-banggakan nyatanya hanyalah pesta hura-hura untuk meninabobokkan rakyat sementara. Begitu rakyat mulai sadar kembali, pesta digelar lagi. Calon pemimpin kembali menjadi artis, muncul di layar televisi. Keliling ke sana ke mari menebar pesona, tapi minim jati diri. Rakyat kembali dikerangkeng dengan calon-calon pemimpin yang memang sudah diprogram dari sananya. Peran media massa sangat penting dalam mengarahkan dan menjaga betul siapa saja calon penguasa yang harus muncul. Sepertinya tak ada pilihan pemimpin lain dari 250 juta orang Indonesia. Apakah memang sejelek itu kualitas bangsa kita? Rasanya kok tidak.
Di tengah keterpurukan negeri ini, sudah seharusnya muncul pemimpin alternatif. Mereka tentu bukan orang-orang yang hanya populer. Tapi lebih dari itu, memiliki keberanian untuk mendobrak kemapanan yang ada dan mengubah sistem yang hancur ini dengan sistem yang diridlai oleh Allah SWT. Kita sangat rindu pemimpin yang hanya takut kepada Allah semata, bukan takut kepada Amerika, IMF, atau Bank Dunia. Kita butuh pemimpin yang mau melaksanakan syariat Islam secara kaffah agar negeri ini menjadi berkah, baldatun thayyibatun wa rabbun ghaffur.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuhu
Redaksi
Isi lengkap? beli tabloitnya... ato kunjungi disini.
Doa Ramadhan hari ke 3
Do'a Seorang Yang Jatuh Cinta
Tuhan
Buatlah dia benci kepadaku
Meski aku takkan pernah benci kepadanya
Tuhan
Buatlah dia lupa kepadaku
Meski aku takkan pernah lupa kepadanya
Tuhan
Buatlah dia meninggalkanku
Meski aku akan merindukannya
Bilamana dia menanyakan tentang cinta
Maka katakan kepadanya tentang makna cinta
sedang dihatiku hanya ada duka
Bilamana dia menanyakan tentang rindu
Perdengarkan kepadanya tentang lagu rindu
Sedang di hatiku hanya ada pilu
Tuhan
Buat dia sepi dari hatiku
Meski dalam dadaku dia selalu ada
------- karena aku terlalu cinta
Amin!!!
Aku terlalu cinta kepadamu "Ukhti"
meski sebenarnya itu belum boleh untukku
dan Dzat Sang Permilik cinta yang mengetahuinya.
Sumber :
http://forum.dudung.net/index.php/topic,12062.0.html
RAMBU-RAMBU RAMADHAN
silahkan ikuti rambu-rambu ramadhan di bawah.... dijamin!!!




